Ringkasan
Kabupaten Jember mau aplikasi smart city. Idenya sentralisasi layanan dan informasi pemerintah dalam satu platform mobile. Warga bisa akses berita, lapor masalah, cek jadwal layanan publik, dan interaksi dengan pemerintah lokal — semua dari HP mereka.
Masalah dengan kebanyakan aplikasi pemerintah adalah mereka dibangun untuk pemerintah, bukan warga. Mereka clunky, membingungkan, dan tidak ada yang pakai. Tim Jember mau sesuatu berbeda. Mereka mau aplikasi yang orang benar-benar buka.
Saya bangun J-KOPI sebagai platform citizen-facing. Ini agregasi informasi dari berbagai departemen pemerintah, kasih service access point, dan include sistem pengaduan. Aplikasi harus cukup sederhana untuk user yang tidak tech-savvy tapi cukup komprehensif untuk berguna.
Scope-nya besar. News feed, event calendar, service directory, complaint tracking, push notification, dan integrasi dengan sistem pemerintah yang ada. Tantangannya bukan cuma bangun fitur — tapi bikin mereka koheren. Aplikasi smart city hanya smart kalau orang bisa figure out cara pakainya.
Klien
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember kelola inisiatif smart city. Mereka bertanggung jawab untuk transformasi digital di layanan pemerintah lokal.
Mereka punya visi jelas: bikin pemerintah lebih accessible. Tapi mereka juga paham constraint. Tidak semua orang punya HP high-end. Tidak semua orang punya data unlimited. Aplikasi harus jalan untuk warga rata-rata, bukan cuma early adopter.
Fitur
Berita dan pengumuman agregasi update dari berbagai departemen pemerintah. Warga bisa browse by kategori, search by keyword, dan dapat push notification untuk update penting. Feed dikurasi untuk hindari spam.
Service directory list layanan publik dengan lokasi, jam, dan info kontak. Warga bisa cari klinik kesehatan terdekat, cek kapan kantor catatan sipil buka, atau dapat arah ke fasilitas pemerintah. Dasar, tapi berguna.
Sistem pengaduan izinkan warga lapor masalah — jalan berlubang, lampu jalan rusak, pembuangan sampah ilegal, apa pun. Mereka upload foto, tambah deskripsi, dan track status laporan mereka. Sistem route pengaduan ke departemen yang relevan dan kirim update saat masalah diselesaikan.
Event calendar tunjukkan event pemerintah yang akan datang, pertemuan publik, dan program komunitas. Warga bisa set reminder dan dapat notifikasi. Tujuannya tingkatkan partisipasi sipil dengan bikin lebih mudah tahu apa yang terjadi.
Push notification jaga warga tetap informed soal update urgent — penutupan jalan, alert kesehatan publik, gangguan layanan. Sistem opt-in dan dikategorikan jadi orang hanya dapat notifikasi yang mereka peduli.
Tech Stack
Flutter untuk aplikasi mobile dengan GetX untuk state management dan routing. Backend CodeIgniter 3 dengan MySQL untuk data storage. REST API untuk komunikasi antara aplikasi dan backend.
Firebase Cloud Messaging untuk push notification. Image compression dan caching untuk kurangi penggunaan data. Offline support untuk view konten yang sudah di-load sebelumnya. Aplikasi harus lightweight karena banyak user punya paket data terbatas.
Role-based access di backend. Warga punya read access dan bisa submit pengaduan. Staff pemerintah bisa kelola konten dan respond ke pengaduan. Admin kontrol semua. Backend validasi semua input untuk cegah abuse.
Peran Saya
Full-stack developer. Saya bangun aplikasi mobile, design API, dan develop backend. Saya juga kerja sama dengan Diskominfo untuk define feature set dan prioritas apa yang dibangun dulu.
Sistem pengaduan adalah bagian paling kompleks. Harus route laporan ke departemen yang benar, track perubahan status, notify warga soal update, dan kasih analytics untuk staff pemerintah. Saya bangun workflow engine yang bisa handle tipe pengaduan berbeda dengan aturan routing berbeda.
Saya juga fokus di performa. Aplikasi harus load cepat dan pakai data minimal. Saya implement aggressive caching, lazy loading untuk gambar, dan pagination untuk feed. Tujuannya bikin aplikasi usable bahkan di koneksi lambat.
User testing ungkap masalah yang tidak saya antisipasi. User lebih tua struggle dengan navigasi. Beberapa fitur terkubur terlalu dalam. Saya sederhanakan UI, tambah fungsi search, dan bikin fitur yang paling sering dipakai lebih prominent. Iterasi kedua jauh lebih baik.
Aplikasi launch di 2022 dan sudah di-download ribuan kali. Diskominfo pakai ini sebagai channel utama untuk citizen engagement. Mereka bilang ini tingkatkan tingkat resolusi pengaduan dan perbaiki komunikasi dengan publik. Itu jenis impact yang justify effort.
